News

Berita Terkini: Sindikat Penyebar Kebencian Saracen Berpotensi Terorisme

Saracen

Bolaria.net, Berita Terkini: Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal Polri menangkap tiga orang dari kelompok Saracen, sindikat penyedia jasa konten kebencian. Mereka menggunakan 2.000 akun media sosial yang kemudian berkembang menjadi 800 ribu akun untuk menyebar konten kebencian.

Jasriadi, pendiri Saracen, mengatakan kelompok yang dibentuk pada 2015 ini, untuk menghancurkan kelompok grup media sosial lain, yang menurutnya melakukan ujaran kebencian. Saat pilpres 2014 banyak akun Facebook yang menghina Islam dan Pak Prabowo, sehingga ia membajak dan mengambil alih akun tersebut. Kemudian, ia mengganti namanya menjadi Allah Maha Besar atau Saracen.

Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) perbuatan tersebut bertentangan dengan hukum dan tidak dibenarkan secara syariah. Penyebaran informasi bohong tidak dibolehkan meskipun demi tujuan baik. Setiap Muslim yang bermuamalah melalui media sosial dilarang melakukan gibah, bullying, ujaran kebencian, serta permusuhan atas dasar SARA.

“Itu haram hukumnya,” ujar Wakil Ketua MUI Zainut Tauhid Saadi lewat keterangan tertulisnya, Senin, 28 Agustus 2017.

Bahkan menurut Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj, sindikat penyebar berita bohong Saracen berpotensi terorisme. Baginya, orang yang membuat keributan, konflik, perang saudara, sehingga memecah persatuan bangsa disebut teror. Sabtu, 26 Agustus 2017.

Mereka berterimakasih kepada Kepolisian Indonesia membongkar sindikat Saracen,dan meminta mengusut tuntas seluruh jaringan Saracen, termasuk penyandang dananya.

Ketiga orang yang ditangkap kepolisian terkait dengan Saracen adalah dua orang laki-laki, Jasriadi, 32 tahun, Muhammad Faizal Tanong (43), dan satu orang perempuan, Sri Rahayu Ningsih (32). Ketiganya ditangkap di lokasi dan waktu yang berbeda-beda. Faizal ditangkap di Koja, Jakarta Utara, pada 21 Juli 2017. Jasriadi ditangkap di Pekanbaru, Riau, pada 7 Agustus 2017. Terakhir, Sri ditangkap di Cianjur, Jawa Barat, pada 5 Agustus 2017.

Para anggota Saracen disebut mahir membuat akun palsu, anonim, semianonim, hingga riil, serta bisa memulihkan akun-akun yang yang sudah diblokir, dengan cara kerja yang terorganisasi. Mereka menawarkan jasa seharga Rp75 juta hingga Rp100 juta dengan mengajukan semacam proposal “paket menyebarkan berita bohong dan provokatif” ke sejumlah organisasi kemasyarakatan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top